Komunikasi Antarbudaya di Perpustakaan

I. PENDAHULUAN

Perpustakaan merupakan lembaga atau organisasi yang bergerak dibidang pengetahuan dengan tugas sebagai penghimpun dan penyalur informasi, di perpustakaan dalam melakukan kegiatannya akan terjadi intraksi sosial antar pemustaka dengan pustakawan. Salah satu interaksi sosial yang dilakukan oleh pemustaka dengan pustakawan dapat kita lihat pada bidang pelayanan sirkulasi, layanan referensi dan pelayanan lainnya.

Didalam melakukan interaksi sosial antara pemustaka dengan pustakawan tidak lepas dari komunikasi, karena komunikasi merupakan prinsip dasar terjadinya aksi dan reaksi dalam kehidupan manusia dalam beraktifitas termasuk dalam berorganisasi seperti di lingkungan perpustakaan. Makin jelas dan efektif berlangsungnya komunikasi makin banyak pula informasi yang dibutuhkan dalam berkomunikasi.

Menurut Barelson dan Steiner (1966) dalam Ardianto (2009) komunikasi didefinisikan sebagai penyampaian informasi, ide, emosi, kemampuan, dengan menggunakan simbol-kata-kata, gambar, bilangan, grafik. Sedangkan menurut Andersen (1959) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dimana kita mengerti orang lain dan kemudian berusaha untuk dimengerti oleh mereka. Pengertian lain definisi komunikasi menurut Deddy Mulyana (2008): adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan non verbal.

Berangkat dari beberapa definisi tersebut diatas dapat dikatakan bahwa seorang pustakawan dituntut untuk mengetahui dan kemudian mempraktekkannya berbagai macam dan bentuk komunikasi agar perpustakaan yang dikelolahnya mampu memahami kebutuhan informasi yang dicari oleh penggunanya hal ini merupakan bagian dari sosial skill pustakawan.

II. Kemampuan Berkomunikasi

Sosial Skill atau ketrampilan sosial pustakawan adalah kemampuan seseorang pustakawan untuk mengelola emosi yang berhubungan dengan orang lain dalam hal ini pengguna, baik individu atau kelompok, sehingga dapat terjalin Suatu interaksi sosial dan komunikasi yang baik dan efektif.

Menurut Suherman (2009), kualitas dan ketrampilan mendasar yang diharapkan dari seorang pustakawan dalam hal ketrampilan sosial ada lima:

a. Kemampuan Berkomunikasi Secara Positif dan Efektif.

Seorang pustakawan diharapkan dapat menguasai tehnik komunikasi sederhana, tapi efektif, yang akan menimbulkan sikap saling pengertian dan saling menuntungkan (simbiosis mutualisme) antara kedua belah pihak, pustakawan dan pemustaka. Kunci komunikasi efektif adalah mencoba mengerti dan melakukan tindakan yang bisa memberikan kepuasan keinginan pemakai perpustakaan, dengan demikian dapat menambah jumlah pemustaka yang datang.

b. Kemampuan Memahami Kebutuhan Pemustaka

Puskawan diharapkan cepat tanggap dalam merespon pertanyaan tentang informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka, dapat memberikan penelusuran informasi yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat, mampu membedakan antara hal yang penting dan tidak penting tentang informasi.

c. Kemampuan bekerja sama dengan perorangan, kelompok atau dengan lembaga lain.

Hendaknya seorang pustakawan bisa menjadi jembatan kerja sama antara perpustakaan dengan lembaga-lembaga lain ataupun dengan kerjasama dengan perorangan atau kelompok, misalnya kerja sama dengan penulis, penerbit ataupun perusahaan.

d. Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai keanekaragaman budaya

Dengan adanya pengetahuan dan pemahaman keanekaragaman budaya, pustakawan akan dapat memberikan pelayanan yang baik pada pemustaka yang datang dari mana saja, dengan budaya bagaimanapun.

III. Komunikasi Antarbudaya di Perpustakaan

Menurut Sihabudin (2011: 13), komunikasi antar budaya, terjadi bila pengirim pesan adalah anggota dari suatu budaya dan penerima pesannya adalah dari suatu budaya lain, Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar orang-orang yang berbeda budaya baik dalam arti ras, etnik, ataupun berbedaan sosioekonomi.

Komunikasi antarbudaya dapat terjadi didalam perpustakaan maupun diluar perpustakaan. Komunikasi antar budaya yang terjadi didalam perpustakaan misalnya antara pengguna perpustakaan dengan pustakawan, antara pengguna yang satu dengan pengguna yang lainnya, antara pustakawan yang satu dengan pustakawan yang lainnya, yang sama-sama mempunyai latar belakang budaya berbeda.

Berangkat dari berbagai macam latar belakang budaya yang ada di perpustakaan, maka seorang pustakawan diharapkan mampu memahami berbagai macam latar belakang tersebut, agar pengguna atau pemakai yang datang keperpustakaan merasa nyaman, karena kenyamanan pengguna dalam penulusuran informasi merupakan hal yang harus diutamakan oleh pustakawan tanpa harus mengesampingkan hal yang lain.

Komunikasi antar budaya yang baik adalah komunikasi yang dilakukan tanpa ada yang merasa tersinggung terhadap isi pesan yang disampaikan. Maka dibutuhkan keahlian khusus bagi pustakawan untuk memahami komunikasi antar budaya ini secara utuh. Hal itu dikarenakan budaya merupakan tatanan pengetahuan, nilai, sikap, makna yang diwariskan dari generasi kegenerasi. Budaya juga menampakkan diri dalam dalam pola-pola bahasa dan bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku dan gaya komunikasi. Artinya budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara siapa, tentang apa, dan bagaimana komunikasi berlangsung, tetapi juga budaya turut menentukan orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan dan kondisi-konsinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan.

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-anees.2009. Filsafat Ilmu Komunikasi, Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Mulyana, Deddi. 2008. Komunikasi Efektif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sihabudin, Ahmad.2011. Komunikasi Antarbudaya: Satu Perspektif Multidemensi, Jakarta: Bumi Aksara

Suherman, 2009. Perpustakaan Sebagai Jntung Sekolah, Referensi pengelolaan perpustakaan sekolah. Cet k-1, Bandung: MQS Publishing

http://arpusda.jatengprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=813:komunikasi-dalam-layanan-perpustakaan&catid=47:perpustakaan-asrip perpustakaan&Itemid=119. Akses tgl 26 November 2012.

Sumber: kompasiana.com

About admin