Perpustakaan Keren dari 7 Kontainer Bekas di Malang

Perpustakaan sudah saatnya di kelola dengan konsep yang serius dan penuh dengan inovasi. Hal ini karena masyarakat sekarang akan tertarik dengan hal-hal yang baru dan kreatif serta penuh inovasi. Hal ini juga yang dilakukan oleh sebuah perpustakaan (taman bacaan) di kawasan Batu Malang Jawa Timur.

Seperti dikutip dari kompas.com (31/3/13), Sebuah perpustakaan unik dibangun secara kreatif dari tujuh kontainer bekas di kawasan Batu, Malang, Jawa Timur. Setelah sebelumnya “berlayar” ke berbagai dunia sebagai wadah pengiriman lewat lautan dan samudera, kontainer-kontainer yang masih tampak kokoh itu kini tengah mengalami “reinkarnasi”. Hanya saja, nasib kontainer itu saat ini lebih statis di sebuah kawasan berpenduduk.

Dinamai dengan perpustakaan Amin, “perpustakaan kontainer” penuh warna tersebut memiliki 6.000 koleksi buku yang bisa dibaca oleh masyarakat setempat secara gratis. Menghadap ke arah pucuk-pucuk pepohonan dan rumah penduduk, ketujuh kontainer berbeda ukuran dan warna itu masing-masing memiliki fungsi tersendiri.

Kontainer biru misalnya, disediakan untuk ruang membawa buku-buku populer dan hiburan. Sementara kontainer berkelir kuning khusus ruang baca perempuan, sedangkan ruang kontainer berwarna merah untuk buku-buku sains dan teknologi.

Adapun bangunan utama perpustakaan ini dibuat tersusun ke atas menyerupai bentuk permainan tradisional egrang. Kontainer ketiga gedung ini menawarkan pemandangan Kota Batu yang dikelilingi pepohonan.

Gratis

Perpustakaan umum ini didirikan oleh dpavilion, sebuah firma desain arsitektur asli Indonesia. Perusahaan tersebut memang memiliki spesialisasi untuk selalu tertantang “menyulap” sebuah perkakas atau peralatan untuk kepentingan lain yang lebih berguna.

Tak heran, ketujuh kontainer bekas tersebut kini terlihat canggih sebagai sebuah fasilitas umum yang menyediakan kualitas hidup lebih baik bagi masyarakat petani di Batu yang umumnya sederhana. Jurang pemisah antara si kaya dan miskin di Indonesia menjadi sebuah dorongan untuk mewujudkan proyek perpustakaan ini, yang memang benar-benar diperuntukkan untuk publik tanpa dipungut biaya.

Untuk itu, Amin dibangun tidak hanya difasilitasi buku-buku dan ruang baca. Di dalam gedung ini juga tersedia sebuah klinik kesehatan untuk masyarakat setemat, lengkap dengan tenaga perawatnya.

Melihat ini, rasanya, pemanfaatan kontainer-kontainer bekas di Indonesia bukan lagi satu hal yang tak mungkin atau sulit dilakukan karena mudah didapatkan. Apalagi, bentuk umum kontainer memberi banyak kemungkinan untuk berimprovisasi membentuknya bagi banyak kegunaan yang lebih canggih, yaitu bangunan multifungsi dengan anggaran relatif lebih sedikit.

Sumber: DuniaPerpustakaan.com

About admin