Yang Menyentil di Seni Rupa, Resensi Buku Riwayat Yang Terlewat

Judul: Riwayat Yang Terlewat: 111 Cerita Ajaib Dunia Seni
Penulis: Agus Dermawan.T
Editor: Muhammad Sulhi & Iliana Lie
Isi: 174 hlm.
Penerbit: PT Intisari Mediatama,2011

Dunia seni rupa seperti halnya dunia lainnya sejatinya banyak menyimpan kisah tersendiri yang unik. Tak percaya? Dalam buku ini sebutlah pelukis Soenarto Pr kelahiran Banyumas pada 1931 yang mungkin satu-satunya seniman pelukis di sini yang pernah mengajar melukis untuk pasien Rumah Sakit Jiwa. Sekitar tahun 1982-1983 dia mengajar melukis di RSJ Grogol Jakarta.

Kemudian, biasanya dalam pernikahan tiada istri manapun rela dimadu. Tapi hal itu pernah terjadi dalam seni rupa. Sebutlah Maryati, istri pelukis besar Affandi yang mengusulkan suaminya untuk menikah lagi. Tak hanya mengusulkan, Maryati bahkan mencarikan perempuan untuk dinikahi Affandi. Dan tak diduga gadis yang kemudian dinikahi Affandi kala itu ternyata masih berusia 16 tahun!

Selain itu dalam sebuah pameran seni rupa yang pernah digelar dengan mewah di sebuah hotel ternama, Indonesia tercoreng reputasinya lantaran semua lukisan karya pelukis kaliber internasional dan nasional yang dipamerkan adalah palsu! Pameran itu bertajuk ‘The Old Painting Pre World War II’ yang digelar di hotel The Regent pada 22-24 November 2000. Apalagi peristiwa memalukan ini kemudian diulas banyak media massa asing seperti BBC, Reuters, AP, Strait Times, dan banyak lagi sebagai “pameran lukisan palsu terbesar di dunia”.

Yang tak kalah menarik, siapa sangka Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1967 pernah marah-marah lantas mencoret-coret lukisan Srihadi berjudul “Air Mancar” dengan makian “sontoloyo”! Ini gara-gara lukisan Srihadi yang menurut Ali Sadikin berbuat kesalahan dengan menggambarkan kondisi Jakarta yang tidak pas dengan realita pada waktu itu yaitu menggambarkan Jakarta sedang dibeli oleh pemodal asing.

Buku ini tentu saja terasa menyentil lantaran berbeda dari artikel seni rupa biasanya karena dimaksudkan penulis sebagai kumpulan sketsa sosial yang tidak tercatat. Oleh karenanya buku ini dapat dibaca siapapun bukan pada khalayak penikmat seni rupa saja, melainkan juga kepada semua kalangan yang tertarik pada dunia seni secara lebih luas sebagai informasi jurnalistik. Membacanya pun Anda tak perlu berkerut kening lantaran kisah-kisah yang dikumpulkan Agus sungguh unik dan lucu.

Menariknya dalam buku ini tak hanya kisah ulah sosok pelukis atau perupa saja, melainkan juga pelukis yang juga sastrawan seperti Remy Sylado dan Danarto, sampain dunia komik tentang Siauw Tik Kwie yang punya karya besar sebagai ikon dalam sejarah komik nasional, Sie Djin Koei (1954-1961).

Yang Terluputkan Penulis

Meski buku ini sekilas terbilang cukup lengkap sebagai catatan “yang terlewat”, ternyata ada beberapa peristiwa penting yang terlewatkan penulis. Misalnya “Pameran Lukisan bukan Pelukis” pada tahun 2002  di Yogyakarta yang melibatkan Sitok Srengenge, Joni Ariadinata (sastrawan), dan Butet Kartaredjasa (teater).

Peristiwa unik lainnya yang tak tercatat dalam buku ini adalah ternyata pernah ada kurator seni rupa membuat lagu dan menyanyi! Hasilnya adalah 4 lagu jenaka bernuansa pop-electronica karya kurator Frigidanto Agung bekerja sama dengan DJ Henry yang diedarkan di internet pada 2010 melalui situs My Space.

Kemudian pada tahun 2010 pelukis Mohammad Gatot dari komunitas Serrum (alumnus Fakultas Seni Rupa UNJ) menggelar pameran karya seni rupa di Pasar Seni Ancol, sebagai hasil menantang para seniman grafis dan seni rupa lewat jejaring sosial Facebook memodifikasi sampul buku gambar wajah bulat sedang tersenyum, terkenal sebagai produksi AA dan gambar gunung kembar plus garis petak-petak sawah di bawahnya. Entah disengaja atau tidak, pola itu jadi pola standar jika digambar hampir semua anak-anak Indonesia tatkala sedang belajar menggambar atau mendapat tugas menggambar gunung, rumah, dan sawah dari gurunya!

Langkah penerbitan buku ini patut dipuji dengan menghimpun sebanyak 111 berita seni rupa yang dapat dilihat dari sisi lain yang unik, lucu, “ajaib” walau idenya tak bisa dibilang baru. Dalam dunia pustaka ide penulisan buku ini mirip buku Keajaiban Pasar Senen karya Misbach Yusa Biran (Pustaka Jaya,1971) yang berisi kumpulan kisah “ajaib” para seniman Senen era 1950-an. Bedanya Agus menuliskannya sebagai kumpulan reportase, sedangkan Misbach menuliskannya sebagai cerpen yang sebagian besar pernah dimuat di majalah Aneka. Persamaan keduanya adalah kedua buku ini dimaksudkan sebagai sketsa sosial yang terjadi pada masanya.

Hm, bukankah pada hakekatnya segala peristiwa yang paling gampang diingat di bidang apapun sebenarnya bukan pada biografi indah mengharu biru, melainkan adalah kelucuan?

Sumber : Jakartabeat

About admin