Pegiat Literasi Indonesia Timur Ceritakan Suka Duka Dirikan Taman Bacaan

Bayangkan anak-anak Papua, Flores, atau daerah terpencil lainnya di Indonesia Timur kesulitan akses menerima buku bacaan? Akses yang tak merata dari bagian barat Indonesia hingga ke ujung pelosok, membuat sulitnya anak-anak mendapatkan bacaan yang berkualitas.

Sejumlah pegiat literasi yang berasal dari Indonesia Timur datang ke Palu, Sulawesi Tengah, khusus untuk berbagi suka dan duka mendirikan taman bacaan di sarasehan literasi hari terakhir Festival Literasi Indonesia 2016. Hingga persoalan mahalnya biaya pengiriman buku ke lokasi mereka. Seperti yang dirasakan oleh salah satu pendiri Armada Pustaka, M.Ridwan Alimuddin.

“Setelah dapat kiriman buku-buku, kita harus mikir biaya pengiriman buku ke lokasi kita. Itu mahalnya luar biasa,” ujarnya di halaman Pogombo, kantor Gubernur Sulawesi Tengah.

Pihak Armada Pustaka, lanjut Ridwan, sedang memikirkan tentang siasat biaya pengiriman yang hemat. Pustaka berjalan yang berdiri Juni 2015 lalu tersebut diakuinya memang inspiratif. Dengan perahu dan ATV, itu adalah cara yang konservatif.

“Kalau yang biasa, tidak akan menarik masyarakat,” kata Ridwan.

Nila Tanzil pun mengalami hal yang sama. Sampai sekarang, dia sudah membuka 39 perpustakaan di 15 pulau terpencil. Namanya, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pelangi.

“Di Jawa daya baca anak-anak bisa 73 kata per menit, tapi di Indonesia Timur hanya 29 kata per menit. Maka di Indonesia Timur sangat membutuhkan banyaknya taman bacaan,” ujar Nila bercerita.

Dengan cara tak biasa pula, Nila bekerjasama dengan berbagai pihak. Misalnya, maskapai penerbangan maupun kapal layar yang mewah yang kerap melakukan traveling ke pulau terpencil. Dia pun rela menghubungi toko buku ternama Tanah Air agar mendapatkan diskon.

“Di tahun-tahun pertama, saya yang suplai buku pakai tabungan sendiri, beli buku sampai Rp 5 juta. Sekarang sudah fokus ke taman bacaan dari tiga tahun lalu dan kerja di social enterprise dan travel, profitnya ke taman bacaan,” lanjutnya.

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pelangi sudah ada di Flores, Lombok, Alor, Gowa, Banda Neira, Raja Ampat, dan lain-lain.

“Mayoritas ada di rumah penduduk, tapi sekarang mulai ada di sekolah-sekolah,” sambungnya.

Sedangkan pendiri ‘Buku untuk Papua Sorong, Papua Cerdas’, Pretty Sumampaw, merasakan naik-turunnya mendirikan sebuah taman bacaan.

“Saya mengalami dari yang ada 50 relawan, tinggal 5 dan sekarang tumbuh lagi. Saya berpikir kok kota-kota yang lain dapat bantuan buku-buku, tapi Sorong nggak ada. Kenapa? Ternyata karena nggak ada taman bacaan. Akhirnya saya bikinlah,” cerita perempuan berambut sebahu itu.

Jalan yang dilakukan pegiat literasi Indonesia Timur pastinya masih panjang dan berliku. Pilihan hidup yang dilakoni mereka menjadi contoh dari gigihnya pegiat literasi dalam membangun taman bacaan dan membuat masyarakat pulau terpencil melek aksara. Tak memiliki ekspetasi yang tinggi maupun berpenghasilan besar, mereka tetap eksis mengembangkan gerakan literasi di Tanah Air.

Diskusi pegiat literasi di Indonesia Timur serta obrolan hangat tentang proyek buku ‘100 Buku Vokasi Menulis’ bersama TBM Rumah Dunia mengakhiri perhelatan pestanya gerakan literasi Tanah Air. Festival yang sudah berlangsung sejak 18-20 Oktober itu berakhir dengan salam ‘gerakan literasi’ yang tak pernah putus dan ditutup.

Sampai jumpa di Festival Literasi Indonesia tahun 2017!

e72cefc1-15ba-454e-af5e-690b8329af40_169

About admin