Di Tangan Lulusan ITS Ini, Matematika pun Diterapkan pada Seni Lukis

Sejak dikukuhkan menjadi Sarjana Matematika di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya pada 1989, Desemba Sagita Titaheluw merasa tidak pernah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keilmuan yang telah didapatnya.

Namun, ia kemudian menemukan kesamaan cara berpikir ilmu matematika itu pada seni lukis yang mulai ditekuninya.

“Eureka… Ini Jalanku,” begitu pria asal Ambon kelahiran Blitar, Jawa Timur, memberi nama pada tema pameran tunggal (solo exhibition) karya-karya lukisannya yang berlangsung di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur di Surabaya, pada 11-19 Desember 2016.

Itulah pameran tunggal pertamanya sebagai pelukis, yang sekaligus menandai awal kariernya sebagai seniman. Ada 55 karya lukisan bergaya kontemporer, hasil goresan yang ditekuninya sejak tahun 2009, yang semuanya menggunakan media akrilik di atas kanvas, pada pameran perkenalannya sebagai pelukis kepada khalayak ini.

Desemba mengeksplorasi bentuk botol pada 55 karyanya yang dipamerkan itu. “Saya buat 55 karya lukisan untuk pameran perdana ini. Saya paskan dengan usia saya. Bulan November lalu saya berusia 55 tahun,” katanya belum lama ini.

Kemudian, dari sekian banyak bentuk yang ada dalam kehidupannya, kenapa Desemba memilih wujud botol yang dieksplorasi ke dalam 55 karya lukisannya? “Itulah gambaran hidup saya selama ini, botol kosong,” ucapnya lirih, seraya menunjuk pada kehidupannya semenjak lulus sebagai Sarjana Teknik Matematika dari Kampus ITS pada 1989.

Desemba mengisahkan, sekali dirinya merasa bangga dalam hidupnya yaitu ketika diterima di Kampus ITS, yang tergolong sebagai perguruan tinggi papan atas di Tanah Air, pada 1981.

“Itupun saya bisa diterima di ITS karena jurusan yang saya pilih kurang populer atau jarang ada peminatnya, yaitu Teknik Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA),” kenangnya.

Ada 12 orang mahasiswa seangkatannya yang mengambil jurusan Teknik Matematika ketika itu. Menurut Desemba, semuanya tidak tahu kalau lulus mau jadi apa.

“Jurusan Teknik Matematika, kalau enggak jadi guru atau dosen Matematika, mau jadi apa. Sementara saat itu orientasi lulusan ITS adalah bekerja pada industri dan ketika itu belum ada tempat di industri bagi Sarjana Teknik Matematika,” ujarnya.

Maka, sejak lulus sebagai Sarjana Matematika tahun 1989, Desemba praktis secara langsung tidak pernah menggunakan ilmu keahlian yang didapat dari kampusnya itu di berbagai bidang pekerjaan yang dilakoninya.

Sebutlah Desemba pernah menjabat Manager Promosi bagi Perusahaan Otomotif Yamaha untuk Indonesia bagian timur selama lima tahun, 1988-1993. Kemudian setahun menjabat Product Executive di perusahaan cat Duppont Paint pada 1994.

Bosan bekerja ikut orang, Desemba kemudian mencoba peruntungan membuka usaha percetakan sendiri yang masih dilakoninya sampai sekarang.

“Semua pekerjaan itu secara langsung tidak bersinggungan dengan Matematika,” ujarnya.

Mulai Melukis Desemba merasa beruntung karena semasa menjadi mahasiswa di ITS tergolong aktif dalam pergerakan kampus. Dunia pergerakan kampus itulah yang membawanya kenal dengan banyak seniman yang ketika itu dan bahkan sampai sekarang kegiatannya terpusat di Balai Pemuda, Surabaya.

Ditambah, Desemba adalah pendiri Teater Aksioma di Kampus ITS, membuatnya semakin diterima di kalangan seniman Balai Pemuda. Pada awal tahun 2000-an, kepedulian Desemba pada aktivitas kesenian ditunjukkan dengan menyesponsori penerbitan Jurnal Kebudayaan Bulanan “Pandom” bagi Dewan Kesenian Surabaya (DKS).

Kebetulan saat itu Desemba sedang merintis usaha percetakan dan penerbitan di rumahnya, Jalan Pucang Sawit Surabaya, yang masih terus digelutinya hingga sekarang, sebagai penopang kehidupan bagi keluarganya.

Meski Jurnal Kebudayaan Bulanan “Pandom” hanya terbit beberapa edisi, atas kepeduliannya itu, Desemba mendapat tempat dalam kepengurusan DKS periode 2009-2014 sebagai Sekretaris Umum. Sejak itulah Desemba mulai menekuni seni lukis.

“Tapi sebenarnya sejak SMP saya sudah mulai corat-coret (melukis) drawing dan sketsa wajah dengan pensil di atas kertas. Kalau serius melukis di atas kanvas ya mulai tahun 2009 itu, ketika saya duduk dalam kepengurusan DKS,” ujarnya.

Desemba menyeriusinya dengan belajar ke sejumlah seniman lukis kenalannya untuk menggambar bentuk yang realis.

“Ya saya belajar melukis realis pakai crayon di atas kertas maupun akrilik di atas kanvas, dengan memulai melukis tokoh-tokoh idola saya,” katanya.

Beberapa lukisan realis sejumlah tokoh yang menjadi sarana belajarnya itu dibeli oleh kenalannya, yang membuat Desemba semakin semangat mengembangkan bakat seni lukisnya. Hingga akhirnya tercipta lukisan berobjek botol yang dieksplorasinya sebanyak 55 karya, yang dipamerkannya di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, pada 11-19 Desember.

Terapkan Matematika

Dibanding banyak pekerjaan yang pernah dilakoninya, ternyata aktivitas melukislah yang bersinggungan langsung dengan latar belakang ilmu matematika yang pernah dipelajarinya di Kampus ITS dulu. “Metodologi dan cara berfikir seorang seniman, ternyata sama dengan matematikawan,” ujarnya.

Penyelesaian matematika itu, dijelaskan Desemba, selalu dengan menyederhanakan persoalan. “Cara penyederhanaannya selalu menggunakan simbol untuk mewakili variabel tertentu. Misalnya variabel pada satu persoalan diwakili dengan simbol A, variabel lainnya diwakili dengan simbol B, dan seterusnya. Proses seperti ini sama dengan penciptaan karya lukis,” terangnya.

Sebagaimana tercipta banyak simbol botol pada 55 karyanya yang dipamerkannya. Namun, diakuinya, penerapan ilmu matematika masih belum sepenuhnya nampak pada karya-karya dalam pameran perdananya ini. Desemba bertekad akan menerapkan ilmu matematika pada karya-karya lukisan berikutnya.

“Sudah ada di benak saya untuk mengolaborasikan problem matematika ke seni rupa pada karya-karya berikutnya,” katanya.

Sementara ini, Desemba akan memamerkan karya-karyanya yang bertema “Eureka.. Ini Jalan Hidupku” keliling ke beberapa kota.

“Setelah pameran di Surabaya, tahun depan sudah saya agendakan pameran keliling ke Batu, Solo, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Barulah setelah itu saya akan fokus untuk menghasilkan karya lukisan yang baru lagi,” katanya.

Pengamat seni rupa Hari Prajitno, mengapresiasi karya-karya lukisan dalam pameran tunggal perdana oleh seorang Sarjana Matematika ini. Hari menyarankan ke depan Desemba bisa lebih liar dalam menafsirkan bentuk sebagai objek lukisan yang dipilihnya.

“Desemba dalam melukis, masih terkungkung pada wujud botol sebagai objek yang dipilihnya. Tapi sebagai seorang yang baru mengawali karier melukis itu sudah bagus. Ke depan, saya berharap Desemba sudah tidak terkungkung lagi pada wujud objek lukisan yang dipilihnya, harus lebih liar dari wujud objek yang dilukisnya,” tuturnya.

About admin