Hadiah Umrah untuk Penjaja Puding Pustaka Keliling

Siapa yang menyangka, pemuda berkacamata berusia 27 tahun itu kini tengah berada di tanah suci. Budi Rustandi namanya. Namun teman-teman dan orang di sekitarnya biasa memanggilnya Budi.

Budi bukanlah pemuda biasa, mahasiswa tingkat akhir jurusan Filsafat Universitas Islam Negeri Gunung Jati Bandung itu percaya maut, rezeki dan jodoh adalah rahasia Allah. Seperti pengalamannya saat mendapatkan hadiah umrah berangkat ke tanah suci yang tak pernah disangkanya ini.

Selain berkuliah, hari-hari Budi banyak dihabiskan di jalan. Budi berjualan agar-agar. Memikul dagangannya, ia berkeliling keluar masuk kampung. Sasaran utamanya tentu saja anak-anak. Anak anak memang menyukai makanan manis dan berwarna-warni. Dengan modal Rp 20 ribu, Budi meracik agar-agarnya setiap pagi. Bahan-bahannya pun sederhana: gula, air , agar-agar instan dan pewarna makanan.

Jadwal berjualan ia sesuaikan dengan jadwal kuliah. Jika kuliah siang, ia akan berjualan di pagi hari, pun sebaliknya, jika kuliah pagi ia akan berkeliling siang hari setelah selesai kuliah.

Pikulan itu tak pernah lepas dari bahunya. Supaya tak bolak balik, ia membawa serta dagangannya ke kampus. Ia tak malu. Teman teman dan dosennya pun mengetahui ini. Berdagang tak sekedar berdagang. Budi membawa misi.

Di balik pikulan agar-agarnya ini, ia membawa juga buku-buku bacaan. Di pikulannya tertulis “Puding Pusling” yang artinya Puding Perpustakaan Keliling.

Ternyata, bukan hanya anak-anak yang menggemari agar-agar buatan Budi. Orang dewasa seperti tukang ojek pun juga menyukainya. Bahkan ikut membaca buku buku yang dibawanya.

Selesai dari satu pangkalan ojek, fokus utama Budi tetap kepada pelanggan ciliknya. Menurutnya, di sanalah harapan bangsa Indonesia. Calon tunas-tunas bangsa inilah yang perlu dipupuk minat bacanya daripada bermain gadget yang sedang kekinian.

Budi percaya anak-anak itu bukannya tidak tertarik dengan buku, tetapi fasilitas yang ada kurang memadai. Budi berharap, kegiatan yang ia jalankan ini meski kecil, bisa bermanfaat seterusnya. Ya ia meyakini sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain.

Tersadar dari lamunan panjang tentang kegiatan di Tanah Air, Budi tak menyia-nyiakan kegiatan ibadah selama di tanah suci. Madinah adalah salah satu kota kunjungan pertamanya. Di sinilah Masjid Nabawi berada. Di Raudhah, makam Rasulullah, Budi khusuk berdoa untuk dirinya, ibu dan almarhum ayahnya. Raudhah adalah tempat mustajab untuk berdoa, tempat terkabulkannya doa-doa.

Atmosfir Kota Madinah tenang, penduduknya pun ramah dan bersahabat. Tak sadar karena terlalu asyik menikmati dan mengamati orang orang yang lalu lalang, Budi lupa di mana hotelnya berada. Rupanya ia sudah terlalu jauh berjalan.

Untunglah ada seorang pemuda Indonesia menyapanya. Merekapun berkenalan. Adib namanya. Dari Adib, Budi ditunjukkan arah menuju hotelnya. Sambil berjalan, Adib juga mengajaknya mampir menuju kampus tempat ia bersekolah. Universitas Islam Madinah.

Tata arsiteknya tak jauh berbeda dengan kampus-kampus di Indonesia, hanya saja di sini lebih kering jarang ada pepohonan. Suasanapun tampak sepi. Kata Adib saat ini memang masuk masa liburan para mahasiswa. Kampus yang berdiri sejak tahun 1941 ini memiliki mahasiswa bukan hanya dari Arab Saudi saja. Tapi juga mahasiswa dari negara lain termasuk Adib dari Indonesia. Mahasiswa disini mendapatkan beasiswa dari pemerintah kerajaan Arab Saudi, tak hanya itu para mahasiswanya pun diberi fasilitas asrama gratis.

Dari asrama Adib mengajak Budi ke perpustakaan kampusnya. Suasana di perpustakaan di sini sangat tenang. Koleksi buku-bukunya juga sangat banyak. Informasi yang di dapat dari Adib, perpustakaan kampus ini merupakan salah satu perpustakaan kampus terbesar di Asia.

Dari sekian banyak koleksi buku di sini tak satupun ia menemukan buku yang membahas tentang filsafat. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mempunyai kebijakan untuk tidak mengadakan Fakultas Filsafat di seluruh universitas yang ada di negaranya.

Selepas dari kawasan kampusnya, Adib mengajak Budi untuk “jajan gorengan”, mirip dengan gorengan di Indonesia. Namun gorengan di Madinah ini buatan orang Bangladesh. Di sini Adib pun bertemu dengan kawan-kawan lainnya. Sambil menikmati gorengan Budi bercerita tentang kegiatannya di tanah air.

Agar-agar yang ia jual harganya Rp 1.000. Jika dagangan habis ia bisa mendapatkan untung Rp 20.000. Jika tak habis, terkadang dibawa pulang, namun terkadang juga dibagikan saja secara cuma-cuma.

Dari keuntungan Rp 20.000 ini ia sisihkan untuk modal membeli bahan agar-agar, ditabung untuk biaya kuliah dan juga untuk membeli buku untuk menambah koleksi perpustakaan keliling. Selain mendapat bantuan dari teman-teman Budi, koleksi buku di perpustakaan kelilingnya ini ia beli sendiri…

Tak hanya melalui perpustakaan keliling, ia juga menitipkan buku-buku bacaan di beberapa warung. Wanter… warung pinter tur bener… itulah namanya. Di sini buku-buku bacaan dipajang di depan warung dan siapa saja bebas membaca buku dan gratis tentunya.

Saat melihat anak-anak antusias membaca buku, senang rasanya apa yang Budi impikan mendapatkan respons baik. Setelah melepas lelah dan menghabiskan kudapan, Adib mengajak Budi untuk kembali ke hotel.

Sebelum sampai, Adib memberikan Budi satu hadiah.. Alquran… alhamdulillah. Melalui Adib, Allah mengingatkannya untuk tidak hanya membaca buku-buku saja. Tapi juga Alquran.. sumber dari segala ilmu dan hikmah… kitab penyempurna atas kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya…

Hari ini Budi dan bersama rombongan umrah melanjutkan perjalanan ke Kota Makkah berjarak sekitar 490 kilometer, dengan menggunakan bus, butuh sekitar lima jam. Budi membayangkan.. bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya dahulu hanya menunggang unta…Masya Allah…

Setelah melaksanakan ibadah dan rukun umrah, Budi memanfaatkan waktu untuk berkeliling kompleks masjid terbesar di dunia ini. Ada satu tempat yang tak sengaja Budi temui.. Pintu 75

Di sini ternyata ada satu tempat yang membagi-bagikan buku untuk para jemaah. Koleksi buku-bukunyapun dicetak dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Buku-buku yang dibagikan di sini adalah buku pengetahuan agama dan juga tafsir Al Quran..dan Budi sangat senang sekali ketika mendatangi tempat ini.. ternyata petugasnya berasal dari Indonesia. Dan, lebih spesialnya lagi beliau berasal dari Cibiru Bandung, tempat tinggalnya.

Alhamdulillah… Budi diberi beberapa buku tafsir Alquran… Insya Allah buku ini akan menambah koleksi perpustakaan keliling di Indonesia nanti…

Budi percaya bahwa semua yang terjadi dalam hidupnya ini semua atas izin-Nya…Budi hanyalah hamba yang akan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.. dan menjadi hamba yang bisa berguna tidak hanya bagi keluarga tapi juga bagi sesama…

Dan semoga cita-cita Budi untuk dapat mendirikan taman bacaan untuk anak-anak bisa terwujud…

Insya Allah….

About admin