Utang Negara Dipakai untuk Pendidikan hingga Infrastruktur

Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kembali menggelar rapat dengar pendapat dengan pemerintah terkait utang Indonesia yang semakin besar. Parlemen meminta penjelasan penggunaan utang Indonesia yang mencapai Rp3.779,98 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pun menjelaskan, utang negara memang harus dijelaskan pada masyarakat, sebab saat ini sudah menjadi sorotan. Untuk itu rapat dengar pendapat dengan Komisi XI harus terbuka, supaya hasilnya transparan.

Hal pertama yang dijelaskan Sri adalah pemanfaatan, pengelolaan dan strategi utang negara. Jika dilihat dari sisi manusianya, Indonesia memiliki indeks pembangunan manusia yang masih relatif kurang dibandingkan negara lainnya.

Pemerintah melihat ini menjadi sesuatu yang penting mengingat generasi pembangunan manusia Indonesia ke depannya. Untuk itu pemerintah fokus  memberikan pendidikan hingga kesehatan kepada anak-anak Indonesia.

“Sisi rata-rata anak-anak sekolah berapa lama di kita di bawah 7,6 tahun, kalau dilihat negara lain masih tertinggal meskipun tidak buruk. Tapi jika dilihat demografi kita, 73% usia produktif. Untuk menjaga ini, kita berikan investasi pertama untuk 1.000 hari anak-anak lahir, sehingga tidak kehilangan perkembangan otaknya. Inilah investasi tidak bisa digantikan,” ujarnya di Ruang Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (4/9/2017).

Hal kedua, utang untuk infrastruktur. Jika dibandingkan dengan negara lainnya, ketersediaan infrastruktur di Indonesia masih di bawah rata-rata dunia. Untuk itu, ketersediaan utang untuk menambah jumlah infrastruktur dengan tujuan mempengaruhi produktivitas ekonomi.

Hal ketiga, utang untuk perkembangan pasar uang Indonesia.  Dari sisi pasar atau capital market,  surat berharga negara (SBN) Indonesia masih tertinggal. Ini masalah kemampuan negara kembangkan sektor keuangan, apalagi ini tulang punggung negara.

Di mana negara maju terlihat dari sektor jasa keuangan yang korelasi positif dan kuat. Pasar surat utang negara dibandingkan negara lain termasuk rendah. Terlihat dari kedalaman pasar keuangan dihitung rasio penyaluran kredit, aset perbankan terhadap GDP.

“Dengan tiga isu ini pembangunan manusia, infrastruktur  dan lembaga jasa keuangan, di mana peranan instrumen pembiayaan negara bisa capai tujuan pembangunan. Penggunaan utang ini terlihat pada tujuan produktivitas,” tambah dia.

Selain itu, kata Sri Mulyani, tidak benar jika utang digunakan hanya untuk belanja modal. Pasalnya, utang negara juga diberikan untuk meningkatkan perlindungan sosial.

Jika di lihat dua tahun terakhir, utang negara terus menurun karena penggunaannya langsung dinikmati masyarakat. Perlindungan sosial di 2015 hanya diberikan sekira Rp73 triliun, sekarang sebesar Rp264 triliun. Dari anggaran pendidikan sebelumnya Rp300 triliun, sekarang dinaikkan menjadi sekira Rp427 triliun.

“Ini adalah walaupun kenaikan utang makin menurun, belanja dinikmati masyarakat dan itu produktif meningkatkan SDM, infrastruktur dan instrumen utang berguna untuk men-develop sektor keuangan,” tuturnya.

About admin