Membuka Semangat Pagi Bersama Sabar Subadri, Pelukis dengan Kaki

Terlahir dalam kondisi tak memiliki kedua tangan dan kaki kiri yang cacat, tidak membuat Sabar Subadri, berkecil hati. Ia tetap semangat, bahkan mengenyam pendidikan dari SD hingga SMA di sekolah umum. Kini menekuni bidang lukis dengan menggunakan kaki.

Pria kelahiran 4 Januari 1979 menceritakan, pengalaman sejak masih kecil hingga kini menetap bersama istrinya, Fachrunnisa (24 tahun), di Jalan Merak No 56, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, yang sekaligus dijadikan galeri.

“Saya saat kecil diasuh seorang pekerja sosial dan dibantu fisioterapinya oleh Pak Colin Mclenan, warga Selandia Baru yang membuat proyek rehabilitasi anak cacat di Yogyakarta. Kemudian bisa diterima di TK,” kata Sabar mengawali ceritanya, Selasa (17/10/2017) pagi.

Namun saat mendaftar di SD ada lima sekolah menolaknya karena difabel. Atas perlakukan tersebut, ibudanya sempat mendatangi sekolah dan menyatakan akan nitip selama sepekan. Jika dalam sepekan tersebut, Sabar membuat repot pihak sekolah, akan mengambil kembali.

Akhirnya SDN Kalicacing 2 menerimanya. Karena kondisinya, dia melakukan aktivitas belajar termasuk menulis menggunakan kaki kanannya yang bisa difungsikan secara normal. Semenjak di SD itulah pihak sekolah mengetahui Sabar memiliki kelebihan menggambar. Dia sering dikirim mengikuti lomba melukis.

“Sering ikut lomba, lalu ada majalah keluarga yang menulis kehidupan saya. Kemudian ada yang menawari saya ikut asosiasi pelukis mulut dan kaki. Terus ada anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) Jakarta menghubungi saya,” tuturnya.

Karena masih duduk di bangku SD, ia belum bisa menjadi anggota AMFTA. Kemudian setelah usia 10 tahun. Dalam perkembangnnya, bersama empat temannya pada tahun 1989 menggelar pameran kerja sama Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) dan Bentara Budaya, Jakarta.

“Sebelum pameran, kami sowan kepada Ibu Negara (Tien Soeharto) waktu itu. Dalam pameran itu, lukisan saya laku Rp 150 ribu dibeli Arswendo Atmowiloto,” kenangnya.

Setelah lulus SMAN 3 Salatiga tahun 1999, Sabar sempat pula mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STiBA) Satya Wacana, Salatiga, meskipun tak selesai. Dia selanjutnya lebih intens menggeluti dunia lukis.

Bersama AMFPA, dia mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri. Dia pernah berpameran di Taipei, Singapura, Wina dan Barcelona. Di dalam negeri sejumlah pameran diikutinya. Bahkan medio Februari 2013, Sabar menggelar pameran tunggal di Jogja Gallery yang dibuka GKR Hemas dengan tajuk Natura Esoterika. Inilah pameran tunggal pertamanya dengan kurator M Dwi Marianto.

Sapuan kuas Sabar nampak khas. Dia melukis dengan gaya natural realis. Suasana hati dan ketenangan nampak sekali dari ekspresi lukisannya. Sabar nampak bukan seorang pemberontak, pemberang ataupun orang yang marah karena kondisinya. Lukisannya mengesankan pribadi Sabar yang memang sabar dan telah luruh, menjalani hidup dengan irama yang tenang. Pembeli lukisannya dari kolektor, pejabat, pengusaha, politisi hingga masyarakat umum.

Sabar juga aktif dalam jaringan petemanan di medsos. Bahkan dari medsos pula dia berkenalan dengan Fachrunnisa asal Cepu, Blora, yang kini menjadi istrinya. “Saya sudah tahu Kak Sabar ini difabel dari foto-foto di FB-nya. Awalnya keluarga sempat tidak memperbolehkan, namun akhirnya direstui juga. Kami sekarang tinggal di sini,” kata Fachrunnisa.

Sabar kini juga membuka Sanggar Saung Kelir. Dia ingin membagi pengetahuannya melukis kepada generasi penerus. Dia membuka tiga kelas, yakni tingkat dasar, menengah dan mahir. “Untuk siswa dasar ada 5 anak dan yang tingkat mahir ada dua siswa,” kata Sabar.

 

About admin